exile_kid: (Slash fiction? Slash fiction!)
[personal profile] exile_kid
Odwielg Empire.

Sejak kehilangan kejayaannya sejak Lunel Eclipse, Odzwielg -- dalam kemarahan pada Dewi Lunel -- bersumpah kalau mereka akan kembali seperti sediakala. Mereka memanfaatkan dan melakukan semua hal yang bisa mereka lakukan. Mengambil eon dari negara lain. Memanipulasinya. Memburu para penganut Clausism -- apapun.

Keluarga Rothstein adalah keluarga terpandang di Odzwielg. Tsar seringkali  menurunkan perintah kepada keluarga yang terkenal akan kemampuan sihirnya ini untuk melakukan berbagai tugas mulia -- sebuah prestasi yang hebat, mengingat kini Odzwielg sangat mengagungkan teknologi. Dengan sebuah nama yang besar, datanglah beban yang besar. Lucan merasakan ini sejak kecil. Dia tidak menampakkan bakat alamiah sebagai seorang mage. Dia tidak memiliki apa yang dibutuhkan seorang Rothstein -- kemampuan sihirnya terbatas dan fisiknya lemah. 

Cemooh dari anggota keluarga yang lebih tua masih terngiang-ngiang di telinganya. Ledekan dari Karen kakaknya tidak akan pernah dia lupakan. 

Dan wajah kecewa ayahnya.

Terbuang adalah kata yang kasar, tetapi itu yang Lucan rasakan. Tidak ada ucapan perpisahan sedikitpun saat Kirill Rothstein mengirimkan Lucan kecil kepada Paman Maximillian untuk dilatih menjadi seorang mage yang memenuhi standar keluarga Rothstein.

Karena itulah sampai sekarang dia masih bersama sang paman. Dia menolak tinggal bersama orangtua yang tidak menerima anak sendiri apa adanya. 

Bagaimana lagi dia harus mengonfrontasi ayahnya?

Karena itu untuk apa dua orang Pris Gladami mau merepotkan diri menemui buangan Rothstein sepertinya? Lucan mengaduk-aduk gula dalam tehnya dengan tidak sabaran, meminta penjelasan dari En dan Eindride. 

"Tuan Lucan sudah mengetahui seluk-beluk Odzwielg dan usahanya mengontrol eon, bukan? Sesuatu yang sangat khas Odzwielg. Nah, ini," En mengeluarkan sebuah kotak kecil sederhana dari saku mantel dan menyerahkannya ke Lucan, "adalah obat untuk mengatasi efek samping eon bagi tubuh. Hasil dari teknologi Odzwielg. Ini adalah hak anda sekarang. Silakan anda minum."

Lucan mengantongi pemberian dari En, tidak hendak menggunakannya sekarang. "Lalu?"

En tersenyum kecut dengan perilaku Lucan. "Kami meminta Tuan Lucan untuk bergabung dengan Pris Gladami. Keputusan akhir ada di tangan Tuan Lucan, tetapi ingat: keselamatan Anda akan kami jamin. Anda juga akan memiliki akses ke berbagai tempat -- bukankah itu tawaran yang bagus?"

"Itu memang tawaran yang bagus. Namun saya tidak yakin ayah ataupun kakak saya akan bersedia menerima saya dalam Pris Gladami. Lagipula, apakah perbedaan yang bisa saya buat dengan kehadiran saya di antara kalian?"

"Kalau tidak mau katakan saja tidak," kata Ein.

En menyodok rusuk Ein, menyuruhnya tutup mulut. "Anda tidak perlu memberikan jawaban sekarang. Silakan pikirkan matang-matang. Namun," En tersenyum licik, "jika jawaban anda tidak, jangan melibatkan diri lebih jauh ke dalam masalah ini. Menentang - atau bahkan hanya menyelidiki - proyek ini akan berakibat fatal bagi Anda."

Seringai si pelayan bersenjata itu mengunci bibir Lucan. En meraih tangan Lucan dan menggenggamnya dengan erat. "Satu hal lagi, kalau saya boleh kurang ajar. Mengutip kata komandan saya dulu: anak kecil seperti anda diam dan menurut saja."

"Tidak boleh ada yang memanggil saya anak kecil. Tidak terkecuali Anda," kata Lucan berani. 

"Huh. Sok," komentar Ein. Kali ini En tidak menegur Eindride. Dia hanya tersenyum kecut.

Lalu bel pintu kafe berbunyi, memecahkan keheningan di antara mereka. Suara yang memanggil Lucan kemudian membuat Lucan kaget. 

"Lucan! Ke mana saja kau tadi?!" 

Lucan lupa kalau ada Sebastian dan Stefano. Mereka grasak-grusuk memasuki kafe dengan tampang cemas dan jengkel.  Namun ekspresi Stefano langsung berubah begitu melihat kedua Pris Gladamian di seberang Lucan. Tangannya merayap ke sarung pistol di pinggang.

"Tunggu---" Lucan mengangkat tangan, hendak mencegah Stefano. Lalu En juga memasukkan tangan ke dalam mantelnya. "Tunggu!"

En melemparkan beberapa keping uang ke meja. "Sepertinya sampai sini saja dulu. Kami ijin undur diri," kata En, suaranya kembali melembut. Dengan senyum yang sama dia memberi salam kepada Stefano, yang dibalas dengan wajah memberengut. 

"Ada apa ini? Kenapa keluargamu pergi...?" Sebastian memperhatikan En dan Eindride meninggalkan tempat itu.

Stefano melemparkan sketsa wajah En dan Eindride ke meja.  "Dua orang tadi bukan keluargamu, kan? Tapi Pris Gladami."   

Lucan mendongak. Bagaimana orang lain bisa tahu tentang Pris Gladami? "Apa urusanmu?"

"Aku sedang menginvestigasi Pris Gladami dan hubungan mereka dengan alterasi eon-eon di Arcen," Stefano berbicara blak-blakan. "Sepertinya kau bukan orang Odzwielg biasa, Dik. Siapa kamu sebenarnya?"

"Bukan urusanmu. Jangan coba-coba menyelidik lebih jauh kalau tidak ingin mereka menyakitimu," kata Lucan ketus.

"Pura-pura tidak tahu ya," kata Stefano menantang. "Baiklah. Tapi aku tidak akan berhenti sampai sini saja. Aku juga punya urusan yang harus kuselesaikan berhubungan dengan ini."

"Tunggu. Apa sih yang kalian bicarakan? Pris Gladami? Eon?" Sebastian berusaha menangkap ini semua. 

"Lebih baik kau jangan ikut campur juga," kata Lucan dan Stefano berbarengan.

Sebastian melipat lengan dengan sebal. "Oh, baiklah! Setelah semua yang kulakukan hari ini. Kalau begitu aku pulang saja. Lebih baik latihan sulap kartu untuk besok." Dengan dagu terangkat Sebastian meninggalkan mereka. 

Stefano tetap tinggal, bertukar pandang dengan Lucan sebelum akhirnya dia ikut keluar dari kafe. "Baiklah, aku juga akan pergi. Tapi ingatlah, Lucan, aku tidak akan menyerah."

Sepeninggal keduanya, Lucan membuka kotak obat pemberian En. Ada dua butir kapsul. Dia menelan satu -- benar saja, perasaannya jadi lebih ringan dan bebas sekarang.  
 
Lucan merosot di kursinya. Melelahkan sekali. Kemarin monster -- dan sekarang Pris Gladami. Semua terjadi begitu cepat.  Sama seperti Stefano, dia tidak akan berhenti sampai sini saja. En dan Eindride malah mendorongnya untuk tahu lebih banyak tentang Pris Gladami -- kalau mereka memang berniat merekrutnya, tidak salah kan kalau dia ingin mencari tahu lebih banyak? 

***

Atau begitulah niat Lucan. Selama beberapa hari ke depan dia terpaksa berdiam di mansion tempat menginap, hanya keluar untuk menemani pamannya mengunjungi klien-kliennya.

Pris Gladami telah membisikkan tingkah laku Lucan di l'Esterspelle kepada keluarga Rothstein, dan mungkin juga perlawanan kecil yang dilakukan si penyihir es muda. Lucan masih ingat bagaimana si Paman menegur dia keesokan hari setelah bertemu En dan Eindride. Sang Paman tidak secara eksplisit  melarang Lucan pergi keluar sendirian tanpa tujuan, tetapi Lucan menangkap kekhawatiran dalam suaranya. Lucan memutuskan untuk berdiam diri dulu di penginapan selama beberapa hari, menunggu ketegangan mereda sebelum kembali mencari info tentang Pris Gladami.

Siang itu Lucan menghabiskan waktu di ruang baca. Pikirannya tidak benar-benar terpusat pada isi Compendium of Eon Engineering, hanya membolak-balik halaman-halaman untuk melewati waktu. Dia ingin berlatih sihir, tetapi tidak ada tempat yang cukup lapang untuk itu.

"Sebelah sini... Ah." Sang butler mansion masuk ruang baca. "Maaf, saya tidak tahu anda sedang menggunakan ruang ini."

"Ada apa?" tanya Lucan.

"Kami hendak mengganti lukisan di ruangan ini. Namun kalau Tuan Muda Rothstein tidak ingin diganggu..."

"Teruskan saja. Aku tidak peduli," kata Lucan, kembali membaca buku.

Si butler sejenak mempertimbangkan untuk meneruskan pekerjaannya atau tidak. "Terima kasih, Tuan. Akan saya selesaikan secepat mungkin. Silakan, Nona Ophelia."

Pandangan Lucan terangkat saat mendengar nama itu disebut. Ternyata memang Ophelia si pelukis waktu itu. Lucan buru-buru membalikkan badan ke arah lain, menyembunyikan wajah dari Ophelia. Dia tidak ingin dikenali; bisa saja si Ophelia memberitahu Stefano. Kalau sampai mereka tahu dia adalah Rothstein dan memiliki hubungan erat dengan Pris Gladami, bisa-bisa Stefano terus menggerecokinya.

Tiga puluh menit terasa berat dilalui. Selama itu Lucan harus terus menyembunyikan wajah sambil mendengar Ophelia dan si butler membicarakan lukisan seperti apa yang bagus dipajang di situ.

"Baiklah. Silakan tunggu di sini sebentar, saya akan bawakan cek pembayarannya." Sepertinya mereka sudah mencapai kesepakatan. Dia mendengar butler meninggalkan ruangan itu. Ah, kenapa mereka tidak meneruskan di luar ruangan saja?

"Lama tidak jumpa, ya," Ophelia menyapa duluan.

"Apa?" Lucan pura-pura tidak paham dan tidak kenal Ophelia.

"Stefano titip pesan," Ophelia meneruskan, tidak menuruti pancingan Lucan. Kini Lucanlah yang terpancing.

Lucan menduga-duga kalau ini ada hubungannya dengan Pris Gladami. "Tunggu, jangan katakan di sin--"

"Dia bilang datanglah ke Rientoult akhir minggu ini."

"Hah?" 

" 'Daripada hanya berdiam diri di mansion, pergilah ke Rientoult'.  Ada banyak hal menarik selama festival.  "

Lucan mengeryit. "Darimana dia tahu aku ada di sini?"

Ophelia mengedikkan bahu. "Aku hanya menyampaikan pesan. Kebetulan aku ada pekerjaan di sini, hari ini."

"Memangnya ada festival apalagi di Rientoult?" Lucan berusaha mengingat berbagai perayaan yang biasa dilakukan di l'Esterspelle. 

"Kau tahu monster-monster yang bermunculan karena eon malfungsi? Tim dari Odzwielg sudah membereskan itu semua dan orang-orang ingin mengadakan syukuran."

Lucan tersenyum kecut. Pris Gladami rupanya sudah jadi pahlawan, eh? "Akan aku usahakan datang, kalau Paman mengijinkan."


Profile

exile_kid: (Default)
Saint Dork

Expand Cut Tags

No cut tags