exile_kid: (Default)
[personal profile] exile_kid
Can I Stay The Night?

Who: Eclair+Lucan
What: Twitter writing challenge, "Can I Stay The Night?"

Lucan muncul di ambang pintu kamar Eclair sambil memeluk bantal, rambutnya menandakan dia baru bangun tidur. Yang membuat Eclair menaikkan alis adalah mata Lucan yang merah dan sembab.
 
“Ada apa, Lucan?” tanya Eclair, memberikan senyumnya yang biasa.
 
Jari-jari Lucan bergerak gelisah, matanya tidak membalas tatapan Eclair. Dia melihat ke sekeliling kamar Eclair yang hanya diterangi lampu meja di sebelah tempat tidur Eclair. “...boleh aku tidur di sini malam ini?” tanya Lucan parau, diikuti suara tersedu.
 
Ah, dia mimpi buruk lagi. Eclair tidak menyuarakan kesimpulannya, tahu kalau Lucan pasti langsung bertindak defensif dan pergi. Dia menutup buku yang sedang dibaca dan menaruhnya di atas paha. Eclair bergeser ke pinggir tempat tidur, menyisakan sedikit ruang untuk Lucan. Dia menepuk pelan ruang kosong di kasurnya sebagai ajakan masuk. “Maaf kalau agak sempit.”
 
Lucan hanya menggumamkan “hmm” saat menghampiri Eclair. Dia duduk memunggungi Eclair selama beberapa lama sebelum berbaring miring. Eclair menatap punggung Lucan, yang tampak lembab karena keringat, sebelum kembali meneruskan membaca buku.
 
“...maaf,” kata Lucan lirih.
“Tak mengapa. Lucan tidur saja,” kata Eclair pelan sambil menyisiri rambut Lucan dengan jari-jarinya. Eclair merasakan Lucan tersentak kecil saat tangannya menyentuh Lucan, tapi Lucan tetap diam dan membiarkan Eclair mengusap kepalanya.
 
Eclair tersenyum kecil saat dia mendengar irama nafas Lucan terdengar lebih tenang, menandakan si pemuda Odzwielg sudah kembali tertidur.
 
 


Melophia Underground
Who: Peter, Eclair, Ayam, Luise, Klein
What: Twitter challenge, Peter+Eclair, ""Together, we can do anything"

Bulu putih Ayam dan rambut pucat Luise bergemerisik setiap kali pipa-pipa saluran pembuangan di sekeliling mereka meniupkan uap putih pekat. Diikuti Klein dan Eclair dari belakang, mereka berjalan dengan waspada, mencari target mereka di antara puluhan mesin industri yang kusam. Klein berulang kali membetulkan posisi syalnya, melindungi diri dari bau-bau kimia sintesis yang memenuhi pabrik bawah tanah itu.
 
 
“Detektif,” Luise memanggil si unggas di dalam pelukannya, matanya menatap berkeliling, “mungkin dia sudah kabu--” 
 
“Kweeeek!” Ayam berteriak saat ada sesosok putih berkelebatan. Sayap Ayam berkelepak kencang, menunjuk ke arah sosok itu. Kawanan manusianya mengangguk dan langsung berlari. Buruan mereka bergerak lincah, berpindah dari balik satu mesin besar ke balik mesin lainnya. 
 
“Tidak bisakah kalian berhenti mengejarku? Sudah beberapa bulan ini aku harus terus berpindah tempat, capek banget,” Peter Sommers berteriak kepada Ayam dan kawanannya sambil berlari.
 
“Makanya berhenti lari, dong!” Luise balas berteriak, nafasnya terengah-engah.
 
Pengejaran mereka berhenti di sebuah ruangan besar. Cahaya matahari masuk dari jendela di langit-langit yang kacanya kekuningan, menyinari lantai semen dan bertumpuk-tumpuk kotak kayu yang berserakan. 
 
“Kwek! Kwek kwek kwek!” Ayam melompat turun dari tangan Luise, berjalan menghampiri Peter. “Kweeek kwek wek!”
 
Semuanya berhenti di sini, Peter Sommers,” Klein ikut maju, menerjemahkan perkataan Ayam untuk Peter yang dahinya sudah mengernyit bingung. 
 
Peter tersenyum kecil. “Untuk seekor bebe-- ay-- bebek dan dua anak kecil, kalian hebat juga, bisa melacak usaha Sampo Kuda oplosanku sampai sejauh ini.”
 
“Kwek kwek kweeek!”
 
“ ‘Beraninya kamu membawa Arlen ke dalam dunia ini’,” kata Klein.
 
Peter menatap kelompok di depannya, lalu meledak tertawa. 
 
“A-apa yang lucu?” Luise memandang Peter dengan waspada.
 
“ ‘Membawa’... Ah, kalian polos banget,” Peter berkata di tengah-tengah tawanya.
 
“Kwek?”
 
Peter duduk di salah satu kotak kayu, mengambil nafas sebeleum melanjutkan, “Yang ada Arlen yang membawa kami ke dalam usaha ini.” Dia menyeringai melihat kekagetan di wajah Klein dan Luise. “Iya. Semuanya ini ide Arlen. Kami sih hanya ikutan saja.”
 
Suara ‘ceklik’ terdengar. Eclair sudah mengacungkan revolvernya ke arah Peter. 
 
“Sudah cukup sampai situ.” Suara Eclair pelan, dengan bibit amarah yang tidak pernah teman-temannya dengar sebelum ini. 
 
“Tidak, aku mau dengar lebih lanjut. Siapa ‘kami’ yang kau maksu-” Klein maju menghampiri Peter.
 
Suara letusan senjata menusuk telinga Ayam dan Luise, diikuti Klein yang jatuh terjerembab ke lantai keras. Luise butuh beberapa detik untuk mengolah pemandangan di depannya sebelum dia menjerit. Dia berlari dan berlutut di samping Klein, tangannya bergerak panik berusaha menahan kucuran darah di punggung Klein.
 
Eclair menurunkan revolver, meniup asap putih yang keluar dari ujung laras. “Jangan bicara lebih dari yang diperlukan, Peter. Aku sudah cukup repot menutup jejak kerjaanmu setelah Arlen tewas,” suara dingin Eclair memperingatkan, “aku membawa mereka kemari hanya untuk dibereskan.”
 
“Makanya aku menyarankan dirimu pada Arlen. Kamu lebih pintar soal begini.” Peter mengedikkan kepala santai kepada Luise, yang menahan darah mengucur dari punggung Klein dengn tangannya. “Kalau bersama, kita bisa melakukan apapun.”
 
Ayam bergantian memandang Klein dan Eclair, marah sekaligus panik, sayapnya berkelepak kencang. “Kwek! Kwek kwek?!”
 
Eclair menghela nafas. “Maaf, ya, Ayam. Tadinya aku mau langsung membereskan kalian, tapi aku perlu bernegosiasi dengan keluarga Lovelace dulu,” Eclair menjelaskan dengan enteng sambil mengisi peluru.  “Aku tidak mau kehilangan sponsor karena membunuh calon penerus keluarga mereka. Tapi ya sudahlah, kami juga punya banyak sponsor lain.”
 
Eclair mengarahkan senjatanya ke Ayam. Bulu-bulu Ayam bergidik melihat senyum yang tidak mencapai mata  itu. “Kalau mau marah, marahlah kepada Arlen di dunia sana.”





Deadline, Deadline

Who: Anju+Ma Ri
What: Twitter writing challenge, "What would I do without you?"

Orang pertama yang Anju temui saat berjalan menuju ruang kerja Ma-Ri adalah Eclair. Saat Anju memberitahu si pemuda berkacamata kalau dia hendak mengunjungi Ma-Ri, Eclair tampak canggung. “Sepertinya Ma-Ri sedang tidak bisa menerima tamu... Ah, tapi kalau Anju, mungkin tidak masalah,” kata Eclair.
 
Anju memiringkan kepala bingung. “Eh? Memangnya kenapa dengan Kak Ma-Ri?”
 
“Ehm... Sebaiknya Anju lihat sendiri, deh,” Eclair tertawa kecil, menepuk pundak Anju. Anju, masih bingung dengan jawaban Eclair, pergi meninggalkan Eclair setelah mengucapkan permisi. 
 
Saat berdiri di depan pintu ruang kerja Ma-Ri, Anju kembali teringat kata-kata Eclair. Dengan takut Anju mengetuk pintu dengan pelan.

Tidak ada jawaban.

Anju mengetuk lagi, kini lebih keras.

Dia melompat mundur, kaget, saat mendengar Ma-Ri berteriak dari dalam.
 
“Ahhhh! Siapa sih, sudah kubilang aku lagi sibuk!” Terdengar suara langkah kaki menghentak keras, terdengar makin jelas mendekati pintu. Anju nyaris menjatuhkan bungkusan di tangannya saat pintu dibuka kasar, wajah kusut dan galak Ma-Ri menyambutnya. 
 
“Kembali besok saj-- Lho, Anju.” Suara serak Ma-Ri mendadak melembut begitu melihat wajah Anju.
 
Anju, tidak tahu harus merespon apa, mengangkat pelan bungkusan di tangannya ke Ma-Ri. “Kue...”
 
“Oh... Thanks.” Ma-Ri tersenyum -- senyum yang jelas-jelas dipaksa. Otot pipinya yang kaku membuat Mari lebih mirip sedang meringis.
 
“Kak Ma-Ri sedang sibuk?” Anju berjinjit, berusaha mengintip melewati pundak Ma-Ri ke dalam ruangan. Ma-Ri buru-buru menghadang Anju.
 
“I-i-iyyyaaaaa! Begitulaaah,” kata Ma-Ri panik. “Makasih kuenya! Anju sekarang pergi saja---”
 
“Kapan terakhir kali Kak Ma-Ri keluar?” Anju menatap Ma-Ri dengan curiga.
 
“Uhm...”
 
“Sekarang hari apa, coba?”
 
Muka Ma-Ri berkerut, berpikir keras selama beberapa detik sebelum dia mendesah panjang. Anju melotot, mendorong Ma-Ri masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi di dalam.
 
Tumpukan kertas di mana-mana. Sebagian besar buku-buku di lemari sudah berpindah ke lantai. Anju melihat beberapa gelas berisi ampas kopi yang sudah mengeras di dasarnya tersebar di berbagai permukaan, dan tong sampah di pojok ruangan penuh dengan bungkusan roti berbagai rasa. Di meja sendiri ada sepotong roti isi kacang merah yang baru dimakan setengah.
 
“Kak Ma-Ri!” Anju setengah menjerit.
 
Ma-Ri refleks ikut berteriak. “Ya?!” 
 
“Ini sama sekali tidak sehat!” Anju buru-buru memindahkan gelas-gelas kotor ke meja, berjalan melewati kertas-kertas. “Buka gordennya!”
 
Ma-Ri menggerutu. “Kalau dibuka jadi terlalu terang, aku tidak bisa tidur...”
 
“Memang Kak Ma-Ri sudah pernah tidur selama beberapa hari ini?” Anju mengambil tali tasuki dari dalam tas kecilnya untuk menggulung lengan kimononya. Dengan mulut menggigit tali tasuki, Anju mengangguk ke arah jendela, memerintahkan Ma-Ri untuk membuka gorden. 
 
Ma-Ri melemparkan kepalanya ke belakang saat sinar matahari menerpa wajahnya, matanya tertutup rapat. “Uh, terang banget.”
 
“Ini sudah jam lima sore,” kata Anju, suaranya tajam kehilangan kelembutan yang biasa. Dia berjongkok, tangannya mulai bekerja pada lembaran kertas yang tersebar tanpa arah di lantai. “Kita rapikan dulu kertas-kertas ini sebelum Kak Ma-Ri pergi mandi.”
 
“Eh, jangan diacak-acak...” Ma-Ri hendak menghentikan Anju, tapi tangannya langsung ditepis oleh Anju.
 
“Rapikan dulu supaya lebih gampang dikerjakan. Dan tidak boleh minum kopi lagi!” Anju menambahkan saat tangan Ma-Ri meraih kaleng bubuk kopi instan.
 
Butuh waktu dua jam untuk menyusun kertas-kertas ke dalam tumpukan yang lebih enak dilihat -- tingginya dua kali ukuran Ayam. Butuh waktu lebih lama untuk memeriksa laporan karangan Ma-Ri, tapi dengan bantuan Anju pekerjaan Ma-Ri kini terasa lebih ringan.
 
***
 
“Nah, yang ini hanya perlu dirapikan paragrafnya...” Anju bergumam sambil mengigit kue donat goreng yang dibawanya barusan. Dia menaruh kertasnya ke dalam salah satu tumpukan.
 
Senyum Ma-Ri mulai tampak lebih natural, sekarang mood-nya mulai membaik karena pekerjaannya berjalan lebih lancar. Tumpukan pekerjaan yang belum selesai makin memendek. “Yeee, sedikit lagi! Mungkin bisa selesai jam tiga pagi...”
 
Anju mendelik. “Tidak boleh begadang,” katanya singkat.
 
“Eehhh?! Tapi tinggal sedikit lagi!” Ma-Ri rebah ke atas meja. 
 
“Ayo mandi sekarang, nanti Kak Ma-Ri ketiduran.” Anju mendorong pundak Ma-Ri.
 
“Malas gerak...” Ma-Ri bangun ogah-ogahan.
 
“Mandiiii!” Anju mendorong Ma-Ri lebih kencang, sampai akhirnya Ma-Ri bangkit berdiri dengan lunglai. 
 
“Oke, okeeeee.” Ma-Ri membentangkan lengannya lebar-lebar, ngulet dengan nikmat. “Ah, bisa apa aku tanpa kamu, ya.”
 
Anju menengadah ke Ma-Ri. “Apa?”
 
“Bukan apa-apa. Sudah ya, aku mandi dulu. ” Ma-Ri nyengir, meninggalkan Anju yang penasaran untuk pergi ke kamar pemandian umum.




These Aren't Hickeys!

Who: Lucan+Eclair
What: From LC Awards most wanted scene, "adegan ambigu Eclair dan Lucan"

“Sakit, Lucan?” Éclair bertanya lembut. Dia tanpa sadar tersenyum, ingin membuat Lucan merasa lebih baik, meski si penyihir es itu tidak bisa melihat ekspresi Eclair dengan posisi punggung menghadap Eclair. 
 
“Y-Ya iyalah,” kata Lucan ketus. Suaranya masih serak karena dari tadi mengaduh kesakitan.
 
Éclair tertawa kecil. Dia menjauhnya tangannya dari punggung Lucan. “Kalau baru pertama kali memang sakit, sih. Apa kamu mau berhenti saja di sini?”
 
Lucan sudah hendak mengangguk. Namun begitu merasakan kehangatan di bagian tubuh bawahnya mulai memudar, Lucan menggigit bibir bawahnya. “…kalau cuma sakit segini, sih, tidak masalah,” katanya gengsi. “Tapi karena ini pertama kalinya buatku, bisa lebih pelan sedikit?”
 
“Kucoba, ya. Aku sendiri susah menahan tenaga kalau sudah begini.” Éclair kembali mengoleskan cairan hangat ke tubuh Lucan. Gesekan pertama tidak terlalu sakit, tapi makin lama makin terasa sakit. Lucan menggenggam sarungnya erat-erat, menahan agar rasa sakit tidak terlontar dari bibirnya. 
 
“Éclair… tolong… lebih pelan… sedikit…”
 
Anju menghela nafas. “Tuan Lucan, kerokan ya memang harus kencang. Kalau terlalu pelan nanti lama merahnya.”

Profile

exile_kid: (Default)
Saint Dork

Expand Cut Tags

No cut tags