exile_kid: (Default)
[personal profile] exile_kid
What: Jika LC memakai sistem HQ dan army ala Gensou Suikoden. Setelah sebuah event, Lucan merajuk dan pergi menyendiri di salah satu bagian kastil. Anju datang untuk menemani.
Fandom: Lunel Chronica.
Disclaimer: Lucan Rothstein adalah karakter milik Ai. Maaf kalau Lucan jadi OOC di sini. And I don't really know how Lucan's inner thought is exactly like, so I took liberal interpretation.

I suck at writing closing paragraph.

---


Dia tidak akan pernah berbuat sesuai harapan keluarganya. Dia akan selamanya terbuang.

Mungkin, saat ini kakaknya akan membicarakannya di hadapan para anggota Pris Gladami yang lain. Bagaimana mungkin seorang Rothstein lebih memilih bersama orang-orang dari negara lain daripada mengabdikan diri pada Odzwielg? Dia juga bisa membayangkan (tangannya ingin melayangkan tinju saat memikirkan ini) si rambut merah itu menyebutnya 'sampah, sampah'.

Namun apapun yang terjadi, dia tidak ingin menjadi seperti kakaknya. Dia yakin akan itu.

Benarkah, Lucan? Tidakkah kau tergiur dengan semua yang dimiliki kakakmu? 

Tidak akan pernah.

Lihatlah semua yang dimiliki kakakmu -- kekuatan! Rasa hormat! Diinginkan semua orang!

Untuk apa dia menjadi mirip seseorang yang dia benci?

Benci? Ataukah itu rasa cemburu?

Tidak, dia tidak cemburu. Jangan---

Lihatlah kasih sayang yang dilimpahkan ayahmu kepada Karen.

"Tuan Lucan---"

"DIAM!!"

Suara KLONTANG! dari kaleng yang jatuh membawa Lucan kembali ke Arcen. "M-Maaf, saya hanya membawakan makanan..." Dari suara rupanya si pelayan dari Yozakura itu.

"Aku tidak mau makan," kata Lucan tanpa menoleh sedikitpun. Dia merasakan kalau Anju masih berdiri di situ, tidak bergeming. Perasaan serba salah dari si gadis Yozakura mulai merayapi punggung Lucan dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Tidakkah dia bisa pergi saja? Lucan bukan anak kecil lagi. "Taruh saja makanannya di situ."

Terdengar suara nafas ditarik dalam-dalam. "T-Tidak bisa! Tuan Eclair meminta saya untuk memastikan kalau Tuan Lucan benar-benar makan." Lalu dia duduk di samping Lucan, agak menjauh. Di antara mereka ada satu baki berisi botol minuman dan setangkup roti isi tebal.

Satu detik, dua detik, lalu entah berapa lama mereka hanya mendengarkan desir angin malam yang melewati puncak kastil.

"Aku akan makan nanti," kata Lucan, berusaha mengusir Anju. "Kamu pergi, sana."

"T-Tidak mau." Anju berusaha menjadi sama keras kepalanya dengan si bungsu Rothstein.

"Untuk apa sih kau mengkhawatirkan aku? Aku bukan anak kecil lagi."

"Biarpun Tuan Lucan sudah dewasa, bukan berarti Tuan Lucan tidak boleh dipedulikan." Anju sedikit menggeser baki berisi makanan sederhana itu ke arah Lucan. "Kata Tuan Eclair dan Nona Citie, Anda belum makan apapun sejak berangkat dari kastil."

"Aku tidak lap---" Gruk gruk gruk.

Sial, kenapa sih perut ini harus berkhianat di saat yang tidak tepat? Anju bahkan tersenyum menang (atau itu rasa lega?) mendengar suara yang menyaingi deru angin malam itu. Dengan penuh gengsi, yang sayangnya tidak bisa meredam aktivitas pencernaan, Lucan meraih roti isi di sampingnya.

Kalau sedang lapar, apapun rasanya jadi enak.

"Tuan Lucan mau tambah?"

Lucan menggeleng sambil melahap roti.

"Kau jangan seperti Citie. Jangan menempel terus padaku," kata Lucan ketus.

"Mengurus makanan para anggota kastil ini adalah tugas saya," kata Anju, pertama kalinya sepanjang Lucan mengenalnya, dalam nada penuh kebanggaan. "Saya harus memastikan semua orang makan dengan baik. Apalagi Tuan Lucan adalah anggota penting."

Penting? Ha! Jangan bercanda. Orang-orang di kastil ini pun hanya merekrutnya karena dia adalah anggota keluarga Rothstein dan punya koneksi ke Odzwielg.

"Pasti menyenangkan, bisa berkeliling ke tempat-tempat lain tanpa mengkhawatirkan keselamatan diri," kata Anju. "Sayangnya saya tidak punya kemampuan untuk belajar sihir atau bela diri yang lain."

"Hmph. Kalau kau mau belajar, pasti akan bisa." Lucan merasakan sedikit ironi dalam kalimatnya. Sekelebat wajah para anggota keluarga Rothstein muncul di pikiran.

"M-Mungkin... Namun setidaknya saya bisa membantu yang lain di kastil ini," kata Anju cepat-cepat. "Karena itu, kalau Tuan Lucan butuh sesuatu, jangan segan-segan meminta bantuan pada saya!"

Meminta bantuan, eh. "Kau pikir aku tidak mampu melakukan semuanya sendirian?"

"Eh, um..."

Lucan mengeryit, tidak ingin mendengar jawaban Anju lebih lanjut. Namun anak berambut hitam itu tidak menyerah -- dari mana sih dia menjadi seperti ini? Pasti karena si Citie. Atau mungkin si tante Ma Ri itu.

"N-Ne. Saya pikir kita tidak akan pernah bisa melakukan semuanya sendirian... Karena memang kita tidak bisa melakukan semuanya, kan?" kata Anju takut-takut. "M-Maksud saya, akan lebih mudah kalau kita saling berbagi kekuatan. Bukankah itu tujuannya kita semua berada di sini sekarang? Sama seperti memasak... Ada yang menanam wortel, ada yang mengangkutnya ke pasar... Lalu saya memasaknya."

"Bukankah lebih mudah kalau melakukan semuanya sendiri? Tidak perlu menunggu yang lain."

"Tidakkah akan sangat kesepian kalau begitu?" kata Anju spontan. "Panen yang lezat pun tidak akan ada artinya kalau tidak ada orang lain yang memujinya."

Untuk apa hidup bagi orang lain? Mengharapkan pengakuan dari orang lain?

Ah, Lucan kecil, bukankah itu yang kau cari selama ini? Sebuah pengakuan? Bukankah sakit ini -- (ada rasa yang menyambar di dadanya) -- karena penolakan dari ayahmu? 

"Karena itu, kalau Tuan Lucan butuh makanan enak dan menyehatkan, jangan segan menemui saya! Saya tidak bisa membantu Tuan Lucan di medan tempur atau dalam kepintaran, tetapi masakan saya tidak akan mengecewakan!"

"...hari ini kau banyak bicara, Tominaga."

"E-Ehhh? M-Maaf!" Anju langsung panik. Mukanya memerah, tetapi terselamatkan oleh remangnya cahaya di luar kastil.

"Luuu~uuucan!"

"Ah, di sini kau rupanya!"

Eclair dan Citie. Makin ramai saja... Tidak bisakah dia tenang sejenak setelah semua kejadian hari ini?

"Saya permisi dulu, Tuan Lucan. Kalau sudah selesai makan silakan panggil saya lagi." Anju bangkit berdiri, membungkuk, dan pergi meninggalkan Trio Bazaar. Lucan hanya menghela nafas begitu Citie merangkulnya.

"Kau sudah baikan, Lucan?" tanya Eclair.

"Jangan cemberut terus, dong! Kami jadi khawatir," kata Citie. Dia menaruh jari telunjuk di dahi Lucan yang selalu berkerut itu.

"Kenapa sih kalian nempel terus padaku," gerutu Lucan.

"Hmm..." Citie berpikir, menanggapi serius keluhan Lucan. "Itu... karena kita teman! Tidak baik meninggalkan seorang teman sendirian!"

"Aku tidak butuh teman." Setidaknya tidak seperti kamu.

"Ehh, tapi," Citie melipat tangan dan memandang Lucan dengan cemberut, "biarpun kau bilang begitu, akhirnya kau tetap berkumpul bersama kami!"

Tidak begitu buruk kan, bersama teman-teman, Rothstein kecil?

 


Profile

exile_kid: (Default)
Saint Dork

Expand Cut Tags

No cut tags