exile_kid: (Default)
[personal profile] exile_kid
Summer Sunshine
Who: Ophelia and Zav
Disclaimer: characters are Mike's and Vai's.

"...Nona Ophelia, Anda s-sedang apa?"

"Cuacanya cerah."

Sepanjang perjalanan bersama teman-teman barunya, Zaveria sering mengalami hal aneh. Namun baru pertama kali ini dia melihat seorang wanita tidur berbaring di hamparan jalan berbatu. Cuaca saat itu memang cerah dan nyaman, bahkan Lucan tidak merengut sesering biasanya.

"Berbaringlah juga," kata si seniman l'Esterspelle itu. Tangannya menepuk batu yang hangat. "Sayang sekali kalau cuaca senyaman ini tidak dinikmati."

"U-Um..." Mengapa tidak berbaring di rerumputan saja? Lebih empuk, dan tidak akan mendapat tatapan aneh dari orang-orang.

"Tidak ada yang lewat di sini dari tadi." Ophelia seolah bisa membaca pikiran Zav.

Dengan malu-malu, Zav duduk di samping Ophelia. Suara degup jantung dari rasa malu perlahan memelan berganti suara gemericik air dari kejauhan. Lalu samar-samar Zav mendengar suara nyanyian ("Ada seorang anak bertanya pada bapaknya~") dan seruling. Harum roti kenari. Gonggongan Sunny.

Dia mengikuti arah pandangan Ophelia. Awan-awan di langit bergerak pelan mengikuti angin... Udaranya hangat... Mataharinya cerah...

"...Kalian sedang apa?"

"Eh?"

Tanpa sadar, Zav sudah ikut berbaring di samping Ophelia, menatap langit. Tanpa bangkit, dari sudut penglihatannya dia melihat Stefano berdiri di dekat mereka. Zav merasakan mukanya memanas, entah karena malu atau karena matahari.

"U-Um... Cuacanya cerah."




If Only I Had...
Who: Arlen/Ayam

Pernahkah kalian menyayangi seseorang dengan amat sangat?

Aku saat ini sedang begitu. Dia adalah wanita yang baik. Aku tumbuh besar bersamanya. Dia tidak banyak berbicara dan secantik wanita lainnya, tetapi dia tetap yang terbaik di mataku. Oh, dan dia selalu membuatkan makanan enak untukku! Biarpun hanya sayuran dan buah-buahan, tetapi yang penting dia perhatian padaku.

Mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai seorang ibu karena dialah yang merawat dan membesarkanku, tetapi hubungan kami tidak seperti ibu dan anak. Kami bahkan bukan keluarga. Entah apa, aku tidak tahu. Yang jelas, aku sangat sayang dia.

Hanya saja aku tidak bisa mengungkapkan perasaan ini dalam bahasa yang dimengerti manusia.

"Ayam, scarf-mu lecek. Sini kurapikan."

"Terima kasih, Arlen!" Aku ingin berkata begitu, tetapi yang keluar dari mulutku hanya 'kwek-kwek'.



Puella Magi Citie Magica
What: Parody of MadoMagi.
Who: Lucan/Citie.

"Dengan harapan apakah soul gem milikmu akan bercahaya?"

Lucan merasakan sakit -- ada sesuatu yang ditarik dengan kasar dari dalam tubuh dan keluar melalui dadanya. Pandangannya memudar. Namun seringai dan kacamata yang berkilau di depannya justru tampak semakin jelas. Menanamkan pikiran: dia telah menyerahkan jiwanya untuk sesuatu yang berbahaya.

Takut? Mungkin. Ini belum ada apa-apanya.

Lucan selalu takut akan banyak hal. Akan penolakan. Dipandang rendah oleh orang lain. Melakukan kesalahan. Dia lemparkan rasa takut itu dan mengubahnya menjadi curiga kepada orang lain.

Dan selama beberapa bulan ini, rasa takut itu mulai memudar berkat senyuman seseorang.

Untuk pertama kalinya, ada yang mau melihatnya sebagai dirinya sendiri. Bukan sebagai adik si Karen atau si bungsu Rothstein.

"Lucan lucu, ya!"

Untuk pertama kalinya, yang diharapkan darinya adalah senyuman, bukan sebuah prestasi.

"Jangan cemberut begitu! Nanti pulang biar kamu kutraktir di kafeku. Gratis, anggap saja sambutan untuk si anak baru!"

Untuk pertama kalinya, keinginannya untuk menjadi kuat datang dari diri sendiri.

"Aku ingin memutar kembali waktu. Kali ini, akulah yang akan melindungi Citie."

Eclair tersenyum. "Kontrak telah dibuat."



Learning by Reading


Who: Arlen, Val, dan Peter
What: Val menggalau karena Arlen. Peter lalu datang dengan Shonen MAGZ. Ini juga snap preview buat chapter LC Novelization mendatang.

Buket bunga warna-warni dilemparkan tepat ke muka Valfred dari seberang ruangan.

"Arlen, terimalah hadiah dariku untuk kali ini saja!" kata Valfred, mengulang kalimat tidak-sakti yang keluar setiap saat si dokter wanita menolak dirinya.

"Sudah kubilang aku tidak mau. Pergi, sana!" Berikutnya sepasang sendal kulit melayang ke hidung Valfred. Entah ini sudah sendal keberapa yang dilemparkan Arlen. Valfred tidak pantang mundur. Seorang Syldin Knight harus terus berjuang! Dia memungut buket bunga dari lantai, merapikannya, dan memaksa masuk ke ruang kerja Arlen.

"KWEEEEK!"

Lalu bala bantuan Arlen datang.

"ADUH!"

"KWEEEK! KWEK KWEK!"


Sosoran dari Ayam si bebek yang sama sakitnya dengan penolakan Arlen menyerbu kaki Val, yang saat itu tidak terlindungi armor seperti biasa. Valfred meloncat-loncat seperti kutu mabuk, berusaha melepaskan diri dari jepitan paruh Ayam tanpa melukainya. Cukup sekali Arlen membencinya karena hewan, jangan ditambah lagi.

"Ayam, lepaskan dia. Nanti kamu bisa sakit kalau menggigit kakinya." Arlen dari dalam ruangan memanggil Ayam. Ayam akhirnya melepaskan paruhnya. Dia mengepakkan sayap dengan angkuh. Valfred membacanya sebagai ancaman, "Awas kalau kau berani macam-macam dengan Arlen lagi!"

Dengan patah hati Valfred meninggalkan bangsal medis. Duduk di bawah sebuah pohon rindang. Dengan penuh kegalauan memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk Arlen. Tepat saat dia membuang nafas panjang, sesuatu terjatuh dari atas pohon dan menimpa kepalanya. Sakit sekali.

Ada apa sih, kok aku sial sekali hari ini--- eh? Shonen Magz?

Valfred melihat buku majalah komik di tanah. Dia mendongak ke atas dan melihat seseorang sedang tidur di atas sana. Wajahnya tertutup oleh volume Shonen Magz yang lain.

Huh. Kalau tidak salah, itu kan Peter? Senior si Eclair? Dia mendengar selentingan kalau battle medic itu orang aneh, tapi tidak seaneh ini. Ngapain tidur di atas pohon? Masih kesal karena sudah berkali-kali kepalanya jadi sasaran, dia melempar balik komik itu ke atas.

Peter langsung terbangun. Lebih banyak komik yang jatuh menimpa kepala Valfred.

"Eh, maaf," kata Peter, setengah mengantuk.

Biasanya Valfred akan bersikap dewasa di depan orang-orang, tapi hari ini rasa frustrasinya sedang menumpuk. Dia mengeluarkan tantrum dan mulai menyerocos soal tidur di atas pohon dan sakit tertimpa ujung buku. Peter, meski masih mengantuk dan bingung mengapa tiba-tiba ada yang mengomelinya, melompat turun dan meminta maaf lagi.

"Maaf, Bang. Nih, saya pinjamkan satu sebagai permohonan maaf." Peter menyerahkan satu Shonen Magz miliknya. "Pinjemin doang, ya."

Valfred dengan dongkol mengambilnya dari Peter. Dia bolak-balik halamannya, lalu terpaku pada satu serial. Tsubasa Football Chronica. Si cowok yang ditolak cewek pujaan karena sepak bola. Si cowok tidak patah semangat demi perhatian si cewek, tetapi tetap ditolak. Mirip dengannya.

Namun semua berubah ketika si cewek berada dalam bahaya. Dengan keren si cowok datang menolongnya. Lalu si cewek mulai membuka hati. Satu demi satu peristiwa silih berganti. Akhirnya si cewek jatuh cinta dengan si cowok.

"Aku pinjam," kata Valfred, mengambil semua volume Shonen Magz di situ.

"Eh? Eh? Satu saja!"

"Ahh, kan cuma pinjam. Namamu Peter, kan? Nanti pasti kukembalikan. Ini demi cintaku kepada Arlen. Aku harus belajar dari sini!" katanya. Tanpa mempedulikan tatapan merana dari Peter, Valfred pergi memborong semua koleksi Shonen Magz Peter.

[Untitled]
Who: Klein, Luise, dan Fester
What: LC Award 'Scene You Want To See', [orang-orang Odzwielg menikmati musim semi pertama setelah sekian lama].

Sebab Klein enggan melepas syal birunya lebih karena alasan emosional daripada praktis. Meskipun demikian, orang-orang jarang mempertanyakannya. Setidaknya saat dia berada di Odzwielg yang selalu dingin. Di luar Odzwielg -- apalagi di Rossigno -- dia selalu mendapat tatapan aneh, "Apa tidak gerah pakai syal terus?"

Karena itu hati kecilnya merasa enggan untuk berada di luar Odzwielg dalam waktu lama. Enggan memikirkan jawaban bagi pertanyaan orang-orang, apalagi mengatakannya.

Sayangnya mulai tahun ini dia harus mencari alasan.

"Ayo, Kak Klein! Udaranya segar sekali!" Luise melambai-lambai dari padang bunga, lalu tiba-tiba menangkap Fester di sebelah dan menubruknya ke tanah berumput. Biasa Fester akan menggeliat, berusaha melepaskan diri sambil memohon pada Luise. Namun kali ini dia ikut tertawa bersama Luise, bahkan balas menggelitiki Luise.

Musim semi pertama mereka di Odzwielg belum cukup hangat.

"Kak Klein~!" Luise kembali memanggilnya.

"Ya, ya." Klein tersenyum kecil.

Dia melepas syalnya.

Kalau tidak begitu, Klein tidak bisa ikut merasakan musim semi yang mulai terbit setelah musim dingin panjang di hati para orang Odzwielg


[Waffle Emergency]
Who: Eindride, Adry
What: Waffle emergency!

Seharian ini wajah Adry kecut.

Sembilan puluh persen interaksi Adry dengan Ein selalu dihiasi ekspresi negatif -- biasanya tampang merendahkan kepada satu sama lain -- apalagi kalau kondisinya sedang sakit seperti sekarang. Tangannya dibebat perban berlapis-lapis sejak misi terakhir mereka.

Tapi bukan wajah seperti itu.

Ah, tapi Ein tidak mau peduli apalagi penasaran lebih lanjut. Energinya sudah habis karena bolak-balik merevisi laporan. Karena itu saat menyeduh teh panas di pantry Ein tidak menggubris Adry, yang terus duduk menggoyangkan kaki dan dagu menempel di meja.

"Hei, kau. Perjaka kering," Adry memanggil. Ein tidak menyahut apalagi berbalik menghadap Adry.

Adry turun dari kursi dan memukul punggung Ein -- dengan tangan yang sehat -- sampai terdengar bunyi BUAGH! yang keras.

"Aduh! Apaan kau, bocah?!"

"Kalau dipanggil ya menjawab! Kalau kau tidak tahu tata krama dasar seperti itu, kamu bakal terus jadi perjaka kering. Bahkan lebih kering daripada ikan asin Rossigno!"

Ein menarik nafas, sudah siap melancarkan makian. Saat kata-kata sudah di ujung lidah air di ketel sudah mendidih dan mengeluarkan bunyi suitan panjang.

"Aku tidak punya waktu untuk meladeni anak kecil," gerutu Ein, menuangkan air ke dalam teko teh.

"Aku bukan anak kecil!" kata Adry sambil berusaha melipat tangan.

Ein kembali menghadap Adry sambil meniup permukaan teh panas. Kantung mata tebal di bawah mata Ein tidak mengurangi efek mengancam di wajahnya.

Adry melangkah mundur. "Mau apa kau?"

"Itu pertanyaanku," kata Ein, menggertakkan gigi. "Kalau kau cuma mau main-main, aku pergi saja."

"Eh, eh! Tunggu!" Adry menahan Ein yang sudah mulai berjalan meninggalkan pantry. Karena ditarik tiba-tiba, gelas teh yang dibawa Ein goyang dan memercikkan sedikit teh panas ke bajunya.

"Kau---"

Adry sudah siap mengelak dan membela diri, tetapi membatalkannya. Dia berusaha menahan diri untuk tidak mengerutkan alis -- tidak seperti yang biasa, paling tidak. "Ya, ya, aku minta maaf. Aku hanya mau..."

Suara Adry memelan saat kata-kata terakhir.

"Apa?" Ein bertanya tidak sabar.

"Buatkan aku waffle," kata Adry pelan.

Mereka saling bertatapan. Ein curiga ini hanya keisengan lain Adry... Tapi karena ini soal waffle dan Adry, jadi tidak mungkin lelucon.

"Kalau aku membuatkan waffle untukmu, apa imbalannya?" tanya Ein.

Adry menggumamkan sesuatu. Dia sudah menduga Ein akan berkata begitu, tetapi tidak memikirkan jawabannya. "Uh... Kamu boleh makan sebagian wafflenya."

"...bye." Ein langsung berbalik pergi.

"Nanti kubantu kamu menuliskan laporan!" sahut Adry sambil mengejar Ein.

"Pakai apa? Lihat kondisi tanganmu, ngaco."

"N-Nanti aku puji-puji kamu di depan Karen!"

Langkah Ein terhenti. Dia tidak balik badan, tertahan hati nurani yang meledeknya (dalam suara Lucan) "Dasar murahan! Begitu saja terpancing!"

Ein tahu itu penawaran yang sangat murahan, tapi juga sangat menggoda. Sekejab dia membayangkan Karen tersenyum memujinya. "Baiklah. Tapi sedikit saja. Dan jangan komplain soal rasanya." Ein berjalan melewati Adry kembali ke pantry.

Adry tidak berkedip, tidak menyangka Ein akan tertarik dengan penawaran itu. Padahal dia hanya asal ngomong.

Two Lights
Who: Anju, Ma Ri, Ein, Lucan
What: LC Awards Scene You Want to See, [Anju memberanikan diri untuk terjun ke medan pertempuran untuk menolong Ma-Ri]
Note: Title is inspired by my favorite Five For Fighting's song

Darah selalu membuat Anju merasa bersalah.

Di usia 5 tahun, Anju pernah menyaksikan seekor sapi dipotong untuk persiapan upacara pernikahan seorang tuan tanah. Darah yang membasahi rerumputan membuat Anju merasa jijik. Bukan jijik akan darah, tapi akan dirinya sendiri. Baru beberapa minggu yang lalu dia bermain bersama si sapi; menungganginya mengelilingi padang rumput dan mengelus wajah yang besar dan baik hati. Tapi dari saat si sapi memberontak sampai mati kehabisan darah, dia tidak maju untuk menolong si sapi, yang pernah dia puja-puja seperti hewan peliharaan sendiri.

Saat usia 8 tahun, dia pernah meminta Xing Long untuk mengembalikan seekor anak burung yang terjatuh dari sarangnya. Kak Ma-Ri memperingatkan mereka untuk menunggu orang dewasa saja, tapi buat dua orang anak kecil, baik sebatang pohon ataupun Gunung Solfarholm bukanlah halangan. Benar saja, Xing Long terpeleset di satu dahan licin. Anju bahkan merasa mendengar suara kulit Xing Long robek seperti kertas saat terjatuh. Tangis Anju pecah. Bukan karena takut melihat kucuran darah, tapi menyesal sudah membuat Xing Long terluka karena keinginannya.

Saat usia 16 tahun, dia melihat Kak Ma-Ri terbaring tak berdaya.

Kalau saja dia tidak berkata ingin membantu Tuan Klein dan kawan-kawan... Kalau saja dia mematuhi permintaan Bibi Yu-Ri untuk langsung pulang ke Yozakura... Kalau saja hatinya yang kerdil tidak nekat ingin membuktikan diri... Kak Ma-Ri tidak perlu terlibat.

Tangan Anju bergetar parah saat merobek bajunya untuk membuat pembalut luka. Mulutnya berusaha mengucapkan kalimat untuk menenangkan Kak Ma-Ri yang bersimbah darah, tapi dia hanya bisa megap-megap menarik nafas, berusaha menahan tangis. Malah Kak Ma-Ri, dengan suara yang makin melemah dan lidah kelu, yang menenangkannya.

"Haha. Payah, ya... Padahal aku yang menawarkan diri untuk ikut, tapi malah menyusahkan seperti ini."

Anju tidak tahu bagaimana senyumnya tampak di mata Kak Ma-Ri. Otot wajahnya sudah terasa tak keruan.

Apa yang Guru Abhishiri sudah ajarkan soal pertolongan pertama?

Angkat tangan lebih tinggi dari posisi jantung untuk mengurangi pendarahan. Ikat luka dan berikan tekanan para tempat yang mengeluarkan darahdarahdarahdarahdarahdarah---

"Hei, Anju. Hei."

"Te-tenanglah, Kak Ma-Ri. Seharusnya d-d-da-darahnya akan berhenti kalau ditekan seperti ini..."

Ada suara kaki diseret di rumput. Suaranya makin lama makin mendekat. Kepala Anju memerintahkan tangannya untuk bergerak lebih cepat. Namun saat Ma-Ri meringis karena bebatannya terasa nyeri, tangan Anju semakin bergetar.
Suara gesekan rumput dengan sepatu berganti dengan suara nafas naik-turun yang berat. “Di sini rupanya kalian.”
Anju perlahan melihat ke arah datangnya suara itu. Matanya pertama kali melihat sebuah staff yang bentuknya lebih mirip sebuah pisau berwarna perak yang meneteskan darah. Pandangan Anju naik, melihat mata biru dan rambut merah kecoklatan – yang kini sudah hampir merah seluruhnya, lepek oleh darah dan keringat.

Ma-Ri meneriakkan sesuatu dengan tenggorokan tersendat, tapi Anju hanya bisa mendengar sebilah tantou pemberian ibunya ditarik keluar dari sarungnya.

“Lawanku bukan kamu, bocah. Minggir.”

Suara yang nyaris bukan suara manusia itu membuat Anju bergidik.

Kak Ma-Ri susah payah menarik bagian belakang kimono Anju, berusaha mencegah Anju untuk melakukan sesuatu yang bukan kekuatannya. Tapi itu malah menguatkan Anju untuk bangkit berdiri, meski dengan lutut bergetar, dan mengacungkan satu-satunya pertahanan yang dia miliki.

Dia pernah melihat yang lain melakukan ini. Diingatnya bagaimana Nona Citie bergerak dengan pedangnya. Bagaimana Xing Long berkelit. Bagaimana yang lain menusukkan senjata.

Anju berlari menerjang untuk memendekkan jarak di antara mereka. Belum beberapa langkah, Pris Gladami berambut merah itu mengayunkan senjatanya tanpa usaha. Anju tidak sadar apa yang terjadi – dia hanya tahu dirinya mendadak terlempar ke belakang dan mendarat dengan keras di tanah. Baru saat dia hendak kembali bangun, perutnya terasa nyeri yang amat sangat. Ada bau gosong menyengat.

“Kalau kamu hanya mau jadi pagar daging, baiklah. Jangan salahkan aku dari alam sana. Salahkan si Lucan brengsek itu saja.” Anggota Pris Gladami itu sudah ada di depan Anju, dengan ujung senjatanya di depan hidung Anju.

Ma-Ri berteriak lebih kencang lagi. Anju bahkan tidak terpikir untuk menutup mata. Kalau dia menyingkir, Kak Ma-Ri di belakangnya yang kena.

Selama beberapa detik dia sudah pasrah menerima nasib.

Lalu di detik-detik terakhir, dia merasakan hembusan angin dingin melewati mukanya. Lalu suara gemericik, diikuti erangan keras.

Dia masih hidup.

“...Enak saja salahkan aku,” suara ketus yang familiar mendekat.

Profile

exile_kid: (Default)
Saint Dork

Expand Cut Tags

No cut tags