exile_kid: (Default)
[personal profile] exile_kid
Sensasi aneh selalu muncul begitu cahaya hijau itu berpendar -- hangat, memberanikan, tetapi juga menyelipkan rasa bahaya. Namun sebagai remaja berusia 16 tahun, rasa bahaya itu berusaha dianggapnya sebagai tantangan.

Rasa yang mengubah keseharian, menjadi medali dari setiap petualangan rahasianya.

"Hostile magical energy approaching from south, approximately 50 meters."

"Selatan?" Selena berputar, mencari arah selatan. Ah, bagaimana caranya dia mengetahui mana selatan mana utara? "Uhm, Remi, bisa tunjukkan mana arah selatan?"

"Turn to your left, Ma'am." Suara wanita robotik Reminiscences menjawab. "Hostile magical energy at 30 meters."

Sudah tiga puluh meter? Cepat sekali---

"!!"

Selena sudah melihat satu sosok kecil berkelebatan di ujung jalan, bergerak zig-zag untuk mengacaukan arah bidikan. Sialan, aku paling benci yang cepat seperti ini.

"Remi, Barrier!" Selena mengangkat tangan kiri ke depan, memunculkan diagram sihir yang berpendar hijau. Tepat waktu. Si sosok kecil - yang ternyata makhluk bola berbulu lebat - sudah menerjang ke arahnya. Diagram sihir di depan menahan serangan makhluk bola bulu itu, mementalkannya kembali ke aspal jalanan.

Tenang, jangan khawatir. Kalau kau konsentrasi...

"Valiant." 

Diagram sihir di depan Selena menghilang, berganti menjadi diagram-diagram lebih kecil dalam jumlah banyak. Bundaran bercahaya bermunculan dari pusat masing-masing diagram, melayang di udara.

...dari sekian banyak serangan pasti akan ada yang kena.

Dengan satu perintah dalam kepala, bola-bola cahaya itu bergerak cepat mengincar si makhluk berbulu. Beberapa gagal dan langsung menghantam tanah, menghilang. Beberapa berhasil berbelok dan mengikuti gerakan makhluk berbulu yang terus menghindar, mencari celah untuk mendekati Selena. Selena menyadari ini. Dia sengaja membiarkan bola-bola cahaya itu bergerak dalam putaran di sekelilingnya, menakuti si makhluk kecil itu. Matanya menyipit, berusaha menduga darimanakah si makhluk akan masuk...

Dari arah kanan. Si makhluk mendadak berbelok tajam. Selena tidak cukup cepat mengontrol serangannya sehingga bola-bola cahaya yang tersisa menabrak dinding. Tidak ada waktu lagi untuk merapal serangan baru -- Selena refleks mengayunkan tongkat baseball dan menghantam si makhluk berbulu.

Suara 'BLUG' yang muncul menimbulkan rasa ngilu.

Sejenak Selena diliputi rasa bersalah begitu melihat si makhluk terkapar. "...Maaf. Kalau mau mencari seseorang untuk disalahkan, tolong salahkan pemanggilmu." Selena berjongkok dekat si makhluk berbulu, mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kristal bundar berwarna hijau bening. Reminiscences, magical equipment yang telah membantunya menghadapi si makhluk.

"Reverse starting."

Diagram sihir yang sama muncul di permukaan tanah tempat makhluk itu menyambut masa hidupnya. Tidak, dia tidak mati. Selena hanya mengembalikan dia ke asalnya: energi sihir yang bebas.

Kau sudah tahu makhluk ini tidak pernah hidup, tetapi mengapa sensasi itu selalu muncul saat kau menghentikan mereka? (Kau menolak untuk menggunakan kata 'bunuh'?)

Cahaya hijau cantik yang muncul dari diagram sihir tampak kontras dengan warna pucat makhluk yang kini membeku, seperti semen yang perlahan mengering.

Hanya dalam beberapa detik, hanya sebutir batu permata yang tersisa di tanah.

Selena menghela nafas. "Fuh. Ini sudah yang keempat minggu ini... Makin lama mereka makin sering muncul." Batu itu langsung melepaskan warna biru tuanya menjadi warna kelabu begitu ia ambil, menerbangkan serpih-serpih cahaya yang dikenalinya sebagai energi sihir.

"Ahhh, lagi? Padahal aku ingin coba memanggil satu makhluk menggunakan ini..."

"Synthesizer magic requires greater magic control." Reminiscences mengimplikasikan kalau Selena belum cukup mampu untuk melakukan sihir penciptaan.

"Aku tahu, aku tahu. Aku hanya ingin menyimpannya untuk digunakan kemudian hari."

Kemudian hari - yang jelas bukan esok. Atau bulan ini. Mungkin bukan dalam satu dekade ini.

Reminiscences dan tutorial mode-nya adalah guru yang baik, tapi Selena berpikir untuk bisa belajar sihir lebih banyak, dia harus belajar dari orang lain. Penyihir sungguhan.

---

"...satu Vertrauter lenyap lagi."

"Force 46?"

"Entahlah... Kuharap bukan." Pemuda dalam jacket hoodie itu menyandarkan diri ke punggung sofa. Satu gerakan tangan menghilangkan diagram sihir merah di depannya.

"Mungkin penyihir lokal," seorang gadis menimpali. "Force 46 seharusnya masih sibuk dengan pengalihan Blaise dan Iris di kota sebelah."

"Itu, atau Bureau sudah mengirimkan bala bantuan," kata si pemuda. Dugaan itu langsung menjatuhkan keheningan di ruangan itu.

"Mungkin kita harus berpindah tempat lagi." Si gadis mengeluarkan senyuman tipis untuk menghilangkan ketidakmantapan dalam sarannya.

"Colt? Bagaimana menurutmu?" Si pemuda dalam hoodie bertanya ke pemuda berkulit gelap di depannya.

"Apapun keputusan Tuan Muda, saya akan mengikuti," kata Colt. Bukan jawaban yang diharapkan si Tuan Muda, tapi toh dia tetap tersenyum.

"Begitu ya..."

"Eiz," si gadis berkata lirih, "aku masih ingin kita berada di negara ini lebih lama lagi... Bukankah Canon bilang kalau Fallen ada di negara ini? Walaupun butuh waktu lama untuk menentukan titik pastinya."

"Aku tidak masalah, Etta, tapi Blaise sudah tidak sabar," kata si pemuda dalam hoodie.

"Bukankah kamu adalah Tuan Muda Eizeln Rothschild? Kupikir semua orang di rumah ini akan menurut apapun perkataanmu."

Ketiganya langsung putar badan ke arah pintu masuk. Seorang gadis kecil, tidak lebih dari 11-12 tahun, berdiri di situ. Penampilannya mirip boneka porselen; kulit pucat, rambut pirang keemasan, dan ekspresi yang datar. Baju terusan panjang merah tuanya menambah kesan kalau dia bukan berasal dari dunia yang sama.

"Aku membawa kabar," Canon, si gadis cilik, bersuara sebelum Eiz membuka mulut. "Fallen dipastikan ada di kota ini."

Ekspresi tiga orang di hadapan Canon tegang. Bukan kelegaan, bukan pula kekagetan. "Di mana...?" Eiz bangkit dari sofa.

"Belum sejauh itu. Aku hanya menangkap sekilas energi sihirnya." Canon mengibaskan rambutnya. "Sepertinya kalian akan di kota ini untuk waktu lebih lama. Kuharap kalian sedang tidak terburu-buru?"

Eizeln dan yang lain terdiam. Canon tahu mereka tidak punya pilihan lagi. "Jangan khawatir, aku juga ingin melakukan ini secepat mungkin. Berkat kerja kalian yang berantakan, Bureau sudah datang ke negara ini."

"Bureau sudah...?!"

"Namun dengan kekuatan kalian, kurasa menahan satu tim kecil dari Bureau tidak akan masalah." Canon entah memuji atau memperingatkan. "Saranku, jangan terlalu bernafsu menghajar mereka. Kalau mereka sadar kalian adalah lawan yang kuat, mereka akan mengirimkan lebih banyak orang lagi."

"Nah, kurasa sampai sini saja. Aku akan kembali lagi kalau ada informasi baru..." Canon berjalan keluar dari ruangan itu. Tidak ada satupun yang mengikutinya.

Eizeln menghela nafas. "Sampai Canon menemukan letak pasti dari Fallen, kita hanya akan terus mengumpulkan Magi Essence..."

Magi Essence - inti sihir. Eizeln tidak terlalu suka mengumpulkan Essence di dunia ini. Energinya tidak sebesar dibanding dunia lain, tetapi sampai mereka bisa menemukan Fallen, mengumpulkan Magi Essence jadi pekerjaan utama mereka. Eiz mendengar suara hati yang menyuruhnya terus bersabar. Jangan khawatir. Tidak ada perjuangan yang cepat selesai.

Dibandingkan penderitaan orang-orang di Old Ostia, ini tidak ada apa-apanya.

---

"Arthur! Arthur! Kamu tidak apa-apa?"

Udara dingin yang menyapu bagian depan tubuh perlahan menariknya kembali ke alam sadar. Arthur membuka matanya perlahan. Lalu menutupnya kembali. Berkas cahaya lampu terasa menyengat setelah dia hilang kesadaran beberapa menit.

"Arth---"

"Tenanglah, Nona. Dia masih hidup, kok."

Oh, dia masih hidup... Suatu kelegaan yang luar biasa. Baru pertama kali ini dia kena serangan beam-type langsung. Dia bernafas pelan untuk menyesuaikan diri dengan rasa sakit di dadanya. "Aduh."

"Jangan bergerak, Arthur. Biar kami merawat lukamu dulu." Suara khawatir Vienna memberitahu. Lalu ada yang menyapukan cairan dingin ke dadanya. Sensasi panas membakar itu perlahan berkurang, meski rasa sakit saat bernafas masih merayap di balik kulit.

"Orang-orang itu. Bagaimana?" Arthur kesulitan menyusun kalimat utuh karena rasa sakit.

"Kabur." Vienna menjawab seadanya, seakan dua buronan yang gagal tertangkap bukan prioritas saat itu. Decakan kesal keluar dari mulut Arthur.

Setelah matanya berhasil menyesuaikan diri, diperhatikan sekelilingnya. Sepertinya dia sedang berada di rumah sakit -- tirai putih yang menyekat ruang-ruang kecil dan seorang pria berjas putih sedang mengoleskan cairan obat.  Vienna, wanita berambut hitam disanggul, memperhatikan si dokter mengobati Arthur dengan penuh perhatian. Matanya mengikuti gerakan tangan dokter dan sesekali ikut meringis bersama Arthur.

"Jangan terlalu banyak bergerak. Asal rajin mengoleskan obatnya selama dua minggu, tidak akan ada masalah," kata si dokter.

"Perlu rawat inap?" tanya Vienna.

"Tidak." Bukan si dokter yang menjawab, tapi Arthur. "Uh. Kalau hanya bersekolah seperti biasa tidak akan masalah."

"Kamu janji---"

"Undergraduate tidak boleh masuk ke dalam pertempuran tanpa ijin supervisor," kata Arthur meyakinkan. Dia baru datang ke dunia ini beberapa hari, masak sudah harus dirawat di rumah sakit? Ini bisa mengurangi nilainya. 

Si dokter hanya tersenyum geli. Dia menutup botol berisi salep keperakan dan pergi keluar dari ruangan bersekat itu. Seorang pria, berambut coklat muda berantakan dan mengenakan jaket lusuh, gantian masuk. "Oooh! Sudah baikan?" Collin Clifford nyengir lega. "Dua orang itu lolos -- teleportasi acak beberapa saat sebelum akhirnya menghilang. Kalau radar kita lebih canggih, kurasa bisa kita lacak... Namun kita harus bertahan dengan--- Aduh!"

Vienna mencubit lengan Collin, memberinya kode untuk mengecilkan suaranya. Dari celah tirai Vienna melihat beberapa perawat 46th World menoleh penasaran, mendengar orang asing berbicara dalam istilah-istilah asing. "Ehem. Yah, pokoknya begitu. Kamu pikirkan saja sekolahmu besok. Tidak usah mengkhawatirkan yang lain -- berusahalah untuk beradaptasi di sana saja dulu." Collin menepuk pundak Arthur.

Arthur mengangguk kaku. Dia pikir lebih baik mengkhawatirkan masalah teknis misi ini bersama yang lain karena semua itu sudah dipelajari dalam Akademi. Namun tidak demikian dengan membaur dengan penduduk sipil, apalagi di dunia non-sihir. Dia mulai agak menyesal mengapa tidak menerima tawaran Vienna untuk dirawat inap beberapa hari. Setidaknya dia bisa memulihkan luka-lukanya dulu. Pasti akan menarik perhatian orang-orang kalau dia datang dengan tubuh menahan rasa sakit seperti habis ditabrak truk.

Sementara Collin menyiapkan kendaraan pulang ke 'rumah' baru mereka dan Vienna mengurus administrasi rumah sakit, Arthur sendirian di atas ranjang. Dia mengambil sebuah benda berbentuk kartu berwarna biru tua di atas meja kecil. Dia menghela nafas -- yang berusaha untuk tidak dilakukannya di depan Vienna dan Collin. "Pertempuran nyata beda dengan latihan di Akademi, ya, Armstrong."

"Worry not, Sir," Armstrong merespon.

Iya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia hanya sedikit meremehkan kekuatan lawan. Berikutnya tidak akan demikian. Lalu dia akan menyelesaikan misi ini tanpa dia sadari, lulus dari Akademi, dan akhirnya menjadi anggota tetap di Bureau... Nilai-nilainya bagus. Para guru juga mengakui kemampuannya.

Cukup gampang mengabaikan masa depan yang tidak pasti kalau kehidupan saat ini sudah baik.

Profile

exile_kid: (Default)
Saint Dork

Expand Cut Tags

No cut tags