exile_kid: (I won't let you look away from me)
[personal profile] exile_kid
Alam Odzwielg sudah lama tidak memberikan kehangatan, tetapi Klein Lovelace masih belum terbiasa dengan udara dinginnya. Pemuda itu merapatkan syal buluknya ke leher untuk menahan lebih banyak udara hangat. Suasana perpustakaan Research Institute of Eikenheim  yang sepi menambah rasa dingin. Hanya ada beberapa siswa dan siswi yang datang, itupun langsung keluar lagi setelah menemukan buku yang mereka inginkan, mencari tempat yang lebih hangat. Rasanya ingin pulang ke rumah -- dia tidak menyukai suasana di rumah, tetapi setidaknya akan ada minuman hangat dan kue untuknya.

Klein sedang menguap menatap tumpukan salju di luar jengela ketika tiba-tiba ada suara ledakan dari bagian perpustakaan yang lain, diikuti oleh suara wanita melengking. Suara ibu penjaga perpustakaan. Sepertinya dia sedang mengomeli seseorang. Rasa ingin tahu yang didorong rasa bosan membawa Klein berjalan ke sumber keributan.

"Falkenrath! Sudah dibilang dari dulu kalau kamu tidak boleh merekayasa Eon sembarangan di perpustakaan!" 

"Ehhh, bukan saya yang melakukan!" Seorang gadis berambut pucat membela diri. Ada bekas gosong di lantai dan kayu rak perpustakaan. Bau hangus memenuhi hidung Klein.

"Di sini tidak ada siapapun selain kamu!"

"Tuh, ada anak itu!" Gadis itu menunjuk ke Klein.

"Huh?" Klein langsung mundur selangkah. Ada apa ini, kenapa tiba-tiba dia diseret masuk ke masalah ini?

"Maksudku, cuma ada kamu tadi di tempat ini!" Si ibu penjaga perpustakaan tampak jengkel. "Pokoknya kamu ikut aku sekarang ke Professor Cantrell!"

Penjaga perpustakaan sudah siap membawa Luise ke ruang guru saat penerangan di perpustakaan mendadak mati.

"Bukan karena saya!" si gadis cepat-cepat menyangkal. Penjaga perpustakaan membuang nafas panjang.

"Kau, tunggu di sini dan jaga dia," kata penjaga perpustakaan ke Klein. Tanpa menunggu persetujuan Klein dia langsung pergi untuk kembali menyalakan penerangan.

Kali ini giliran Klein yang mendesah panjang. Dia memperhatikan si gadis. Dia tidak pernah melihat anak ini sebelumnya. Sepertinya dia adik kelas, kalau melihat badannya yang mungil dan wajahnya yang cerah nan polos. Yah, dia jarang mengingat orang-orang di institut kecuali yang menarik perhatiannya, jadi dia tidak yakin dengan tebakannya. Ada sesuatu tertulis di pojok atas sampul buku yang dibawa si gadis -- Luise Falkenrath. Sepertinya itu nama si gadis...

"Mungkinkah dia akan memaafkanku kalau aku membantunya menyalakan penerangan?" tanya Luise. Tangannya yang terbungkus sarung tangan mengepal penuh semangat.

"Jangan," kata Klein. 

"Tapi betul, ledakan tadi bukan karena aku!" Luise tampak tersinggung dengan penolakan Klein.

Klein tidak menggubrisnya. Lalu, sama tiba-tibanya dengan ledakan barusan, dia mulai mendengar suara-suara bisikan entah dari mana. Perlahan-lahan suara itu semakin terdengar dan muncul dari segala arah. Perasaan Klein langsung tidak enak.

"Lihat!" Luise menunjuk ke udara. Bola-bola cahaya berwarna merah ikut bermunculan. Mereka pikir itu adalah kunang-kunang -- tapi di sini? Butuh waktu beberapa lama bagi Klein untuk sadar apa cahaya itu.

"Eon?" Klein bergumam.

"Eon?! Ini eon? Tetapi kenapa berwarna merah?"

"Sepertinya eon malfungsi."

"Malfungsi? Eon kan bukan seperti mesin!"

Klein mengedipkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan dengan terang eon abnormal yang kontras dengan kegelapan. Lebih banyak eon-eon merah yang muncul, baik di dalam perpustakaan maupun di luar gedung institut -- melesat seperti bintang jatuh -- diikuti oleh suara kaca pecah dan jeritan si penjaga perpustakaan. 

Luise terperanjat. "A-ada apa?!"

"Kamu tunggu di sini. " Klein melesat mencari penjaga perpustakaan.

"Eh! Tunggu! Jangan tinggalkan aku sendirian di sini!" Luise ikut berlari menyusul Klein.

Mereka menemukan beberapa rak yang bukunya berjatuhan dan pecahan kaca jendela. Suara jeritan minta tolong terdengar dari sudut ruangan. Apa yang mereka lihat berikutnya mengagetkan mereka; seekor tikus raksasa menyudutkan si penjaga perpustakaan yang sudah jatuh terduduk di lantai. Taring si monster tikus tampak sudah siap mencabik si penjaga perpustakaan. Dengan histeris si penjaga perpustakaan melemparkan buku-buku yang berjatuhan di sekitarnya.

Klein mengangkat tangan, mulai merapal kata-kata di udara untuk menyerang si monster, tetapi Luise sudah lebih cepat darinya.

"E-Electrawaaaave!

Suara gemericik listrik muncul di sekeliling Luise dan panah-panah langsung muncul, menyerang tikus monster. "Kena!" Luise berteriak girang.

Si monster diam beberapa saat. Badannya berbalik ke Klein dan Luise. Tampaknya serangan Luise tidak mempan. Setidaknya kini si monster tidak menyudutkan penjaga perpustakaan (yang sudah mau pingsan).

Pilihan Klein sekarang: serang atau kabur?

"Tch, terpaksa." Klein menggunakan glove untuk menuliskan sesuatu di udara dan memadatkannya. Diluncurkannya rangkaian huruf itu untuk memukul si tikus raksasa. Namun serangannya terlalu cepat, sehingga melesat dan dia ikut terjatuh. Sial, aku jadi keliatan gak keren... Memang harus sering berlatih akurasi.

Si tikus mengambil kuda-kuda dan melompat ke Klein. "Awas!!" Luise kembali melancarkan panah listrik untuk menangkis si monster dari Klein. Kali ini tampaknya cukup efektif -- si monster berhenti selama beberapa detik. Klein menggunakan kesempatan ini untuk mengulangi serangan. Dia cepat-cepat bangun dan melancarkan random spell. "Eonsai..."

Serangannya kena. Si tikus langsung terlempar ke rak buku dan tertimpa puluhan buku yang rubuh. Monster itu sempat mencicit lemah sebelum akhirnya hilang, kembali menjadi eon-eon merah. 

"Anda tidak apa-apa?" Luise berjongkok dan mengecek penjaga perpustakaan. Dia melirik tumpukan buku di lantai, sepertinya takut akan diomeli karena itu. Ibu pustakawati diam saja dengan mata terbelalak dan nafas berat, masih shock dengan yang barusan. Luise dan Klein membantunya berdiri dan mendudukannya di sebuah kursi.

"Sebaiknya kita mencari bantuan---" Belum selesai Klein berbicara, terdengar lebih banyak jeritan. Kali ini datangnya dari luar perpustakaan.

"Jangan bilang ada lebih banyak monster!" kata Luise panik.

Sambil memapah ibu pustakawati, Klein dan Luise setengah berlari ke lobi institut. Para siswa siswi berlarian tidak menentu arah di koridor. Bulatan eon-eon merah memenuhi udara, berubah dan memunculkan lebih banyak monster tikus. 

"Semuanya harap segera keluar gedung dan mengamankan diri! Ini bukan latihan! Sekali lagi, ini bukan latihan!" Seorang profesor berteriak mengatasi keributan sambil menahan seekor monster tikus dengan energy coat dari eon.

"Professor Cantrell!" Luise berteriak memanggil si profesor. Dia hendak menghampiri Profesor Cantrell, tetapi Klein menahannya. 

"Kita harus pergi menyelamatkan diri..." kata Klein.

"Ahhh! Biarkan aku membantunya!"

 "Para guru pasti bisa menghadang mereka. Lagipula listrikmu tidak akan mempan pada tikus-tikus itu."

Dengan keberatan Luise menuruti Klein. Mereka mengikuti arus orang-orang yang menyelamatkan diri keluar dari gedung. Para penjaga bersenjata mengarahkan murid dan staf institut lain ke tempat yang lebih aman, agak jauh dari institut, sementara mereka membasmi monster-monster tikus. Sulit untuk bisa berjalan tanpa terjatuh atau mempertahankan keseimbangan; memapah ibu penjaga perpustakaan di antara lautan orang-orang panik adalah pekerjaan berat.

"Jangan di situ... banyak orang. Banyak kata-kata." Klein memberi tahu Luise saat mereka mencapai tempat perlindungan yang ditunjukkan penjaga. Melihat orang berkerumun dan mendengar gumaman riuh rendah sudah membuat Klein pusing. Belum lagi kata-kata yang terus bersel

"Kenapa jangan banyak orang?? Kalau sedang dalam situasi berbahaya jangan menyendiri! Nanti si tikus datang lagi. Kita tidak mungkin melawannya sendirian! Yah, mungkin kamu bisa, tapi aku..."

Cewek ini berisik sekali... keluh Klein dalam hati. Sebagai orang yang menyukai ketenangan, Klein tidak akan mendapatkannya kalau terus berada dekat gadis ini.

"...menyebalkan."
 


Profile

exile_kid: (Default)
Saint Dork

Expand Cut Tags

No cut tags